Tangisan Ibu Pertiwi

Friends,

Malam pergantian tahun baru telah sama2 qt lewati.. seperti biasa, suasana ramai-riuh dimana2. bukan hanya di Jakarta dan Indonesia, tapi diseluruh dunia. Setiap orang seakan tidak mau ketinggalan untuk merayakan momen tahunan ini. Ya, tepat pukul 12.00 suara terompet berbunyi diseluruh dunia, warna-warni kembang api berloncatan dan menari-nari menghiasi langit diseluruh dunia. Seakan mengambarkan sukacita seluruh dunia akan datangnya tahun baru, yang sejatinya adalah harapan baru bagi semua..

Satu yang unik.. di Indoneisa, Jakarta pd khususnya, Suasana tahun baru seperti ada yang berbeda. Ya, selain tetap ramai, ada satu tamu yang mungkin bagi para penikmat tahun baru dianggap sebagai ‘tamu tak diundang’. Hujan.

Hujan di malam pergantian tahun di Jakarta sedikit banyak telah ‘merusak’ suasana perayaan tahun baru. Mungkin seperti hati orang2 yang kehujanan merayakan tahun baru, ada kesedihan yang terselip di antara butir2 air yang menetes dari langit. Seperti orang2 yang ‘menangis’ karena rusaknya acara yang telah dirancang sedemikian rupa, mungkin Jakarta sebagai ibukota negara kita juga ‘menangis’.

Jika Indonesia adalah Ibu Pertiwi dan Jakarta adalah ibukota Ibu Pertiwi. Maka airmata Jakarta adalah airmata Ibu Pertiwi. Entah apa penyebab Ibu Pertiwi kita menangis di suasana sukacita pergantian tahun.

 

Mungkin sebuah analogi sederhana dapat menjadi bahan pertimbangan bagi qt semua.

Jika Indonesia adalah Ibu Pertiwi lalu kita semua sebagai warga negara Indonesia adalah yang disebut sebagai anak2 Ibu Pertiwi, putera-puteri Bangsa. Sudah fitrahnya bahwa seorang ibu akan sangat sayang kepada anak2nya. Seperti apapun rupa dan sifat anaknya, seorang ibu akan tetap sayang terhadap anaknya. Seorang ibu adalah yang membesarkan anak2nya dengan kasih-sayang tanpa meminta imbalan apapun. Sehingga ada ungkapan bahwa segarang-garangnya seekor harimau tak akan pernah memangsa anaknya sendiri. Begitulah, saking sayangnya kepada anak2 seorang ibu hampir tak mungkin melakukan sesuatu yang membahayakan atau menyakiti anak2nya. Walaupun kemudian ternyata ada beberapa pengecualian pd species manusia, yang beberapa oknum wanitanya telah mencoreng nama baik Ibu.

Kemudian kita bisa bayangkan jika ternyata anak2 sang ibu tidak seperti yang di kira sebelumnya. Ternyata beberapa anak ibu adalah sekumpulan penjahat, yang hobinya menyakiti anak2 lainya. Yang senang melihat saudaranya menderita. Yang gemar mencuri dari saudara2nya, sehingga sebagian saudaranya ada yang menderita akibat perbuatan anak2 ini. Lalu sebagian anak2 ibu yang lainnya adalah anak2 yang hobinya adalah menyakiti ibuya. Selalu membuat ibunya menderita, merampok kekayaan yang dimiliki ibunya untuk kepentingannya sendiri, sehingga ibu kesulitan untuk menghidupi anak2 lainnya. Lalu ternyata pula sebagian anak2 ibu yang lainnya lagi adalah anak2 yang hobinya adalah menyakiti dan membunuh saudaranya dengan berbagai macam alasan. Mereka sanggup membunuh saudaranya hanya dengan alasan ’disiplin’, mereka sanggup membunuh saudaranya hanya dengan alasan tersinggung atau bebagai macam kedok lainnya yang tak ingin diketahui ibunya.

Bagaimanakah jadinya seorang ibu yang menderita keadaan seperti itu? Mungkinkah ibu akan tega menyakiti anak2nya? Walaupun sebagian anak2nya diatas telah jelas2 tega melakukan kejahatan? Jawabannya TIDAK!!

Kalaupun ada anak2 lain yang sampai mati kelaparan, itu adalah akibat dari perbuatan saudaranya yang hobinya KORUPSI. Kalupun ada anak2 ibu yang mati karena bencana, itu adalah akibat perbuatan dari saudaranya yang hobinya merampok kekayaan ibunya, MERUSAK ALAM demi keuntungan. Jika ada anak2 ibu yang mati karena terbunuh, sudah tentu tak mungkin ibu pelakunya, itu adalah perbuatan saudara2nya yang teramat keji, sehingga dengan entengnya dia sanggup mencabut nyawa saudaranya sendiri.

Lantas apakah yang terjadi pada ibu? Apa yang terjadi pada ibu melihat tingkah laku sebagian anak2nya terhadap sebagian anak2nya yang lain? Ibu mungkin akan sangat sabar dan tabah menghadapinya. Tetap tegar menghadapi anak2nya, karena biar bagaimanapun ibulah yang melahirkan dan membesarkan mereka. Tetapi terkadang ibu juga bisa menjadi seseorang yang amat lembut. Tanpa terasa butir2 air pastilah mengalir juga dari mata indahnya. Terkadang hanya aliran kecil akumulasi dari butir2 kecil, tapi terkadang juga bisa menjadi amat deras seperti aliran sungai. Cobalah sesekali kita lihat ibu di malam-malam hari, mungkin ibu sedang meringkuk di sudut kamar berusaha mendamaikan hatinya yang pilu karena anak2nya..

Ibu Pertiwi, dia pasti menangis melihat sebagian anak2nya berkorupsi ria, sedang sebagian lainnya kelaparan.

Ibu Pertiwi, dia pasti menangis melihat sebagian anak2nya mencabik-cabik kulitnya, mencabuti rambutnya helai-demi-helai, merobek bajunya jengkal-demi-jengkal untuk keuntungan sendiri.

Ibu Pertiwi, dia pasti menangis melihat sebagian anak2nya membunuh anak2nya yang lain demi suatu alasan yang tidak pernah bisa ibu terima.

Lalu, sampai suatu saat Ibu Pertiwi sudah tak sanggup lagi membendung butir2 airmata yang kini sudah menjadi lautan dimata indahnya. Matanya yang semula cerah secerah langit biru, tiba2 berubah suram seperti mendung..

Tangisan Ibu Pertiwi Tumpah deras disaat melihat sebagian besar anak2nya baik yang jahat maupun yang menjadi korban memilih untuk bersuka cita disuatu malam.. Disaat Ibu Pertiwi sedang bersedih, anak2nya seakan melupakannya. Entah apa yang membuat anak2 ini bisa melupakan ibu mereka yang tengah meringkuk mendamaikan hatinya yang pilu, sementara mereka memilih bersuka cita dengan meniup terompet dan berjoget ria..

Tangisan Ibu Pertiwi begitu hebatnya malam itu, sampai membasahi seluruh tubuhnya.. Mengguyur anak2 mereka yang sedang bersuka cita.. membanjiri sebagian tempat anak2nya berdiam..

Lalu..

Sebagian anaknya ada yang mungkin tersadar dengan penderitaan ibunya..

Dan sebagian.. Tidak..


Wednesday, January 2, 2008

Why Umaira

unt_alder@yahoo.com

Artikel di atas adalah kiriman dari saudara tercintaku…

dan sudah mendapatkan izin untuk di expose di dalam blog ini.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s