Jakartaku… Terasa Sesak Tak Bisa Bergerak

Jakarta, Bimaa — Ramainya perbincangan media mengenai kemacetan ibukota seakan membuat bimaa ingin ikut memuntahkan segala opini dan pemikiran tentang macet. Sudah dari tahun 1996 Bimaa merasakan kemacetan, dan sampai tahun ini (2007) ternyata kemacetan belum ada solusi yang tepat, bahkan semakin bertambah.

Kemacetan adalah momok bagi kita semua, bukan sekedar Pemerintah Provinsi saja. Tapi kemacetan adalah sumbangsih dari kita semua pengguna jalan raya di Ibu Kota. Jakarta adalah IBU KOTA NEGARA, yang seharusnya bisa menerima para turis dari luar atau dalam negeri. Sehingga bisa menghasilkan DEVISA bagi Republik ini, tapi ternyata kemacetan menjadi penghalang yang nyata bagi mereka (turis) semua.

Sebenarnya kemacetan mudah diatasi jika PEMPROV DKI “mau” bertegas hati dalam mengatasinya. Semua pengguna mobil dan motor selalu menyalahkan pembangunan BUSWAY yang akan menjadi angkutan masal terbaik kota ini. Tapi mereka (pengguna mobil/motor) tidak berfikir bahwa mereka adalah penyumbang kemacetan secara nyata. Bayangkan jika 1 mobil hanya ditumpangi oleh 1 orang, berapa meter lahan yang harus dimanfaatkan oleh orang tersebut. Dan mereka tidak mempunyai keinginan untuk memarkir mobilnya dan beralih menumpang busway atau angkutan massal lainnya.

Memang busway atau angkutan lain belum senyaman yang mereka (pengguna Mobil/motor) harapkan, namun seiring kritik dan saran para penumpang secara langsung bisa membuat angkutan tersebut semakin baik. Apakah anda pernah berhitung atau sekedar membayangkan seberapa besar jasa busway untuk ribuan orang yang menggunakannya, seberapa besar jasa busway bisa membuat orang tertib menyeberang jalan raya?

Berikut adalah solusi yang dapat Bimaa tawarkan kepada PEMPROV DKI dalam mengatasi kemacetan (bila Berani dan kosisten):

  1. Hentikan izin Angkutan (trayek/perusahaan) yang jahat terhadap pengguna jalan. Misalnya: Metro Mini yang selalu membahayakan (ngebut, berhenti dan ngetem dimanamana), Mikrolet yang sudah sangat banyak sehingga terlalu menyesakan Jakarta (padahal tidak ada penumpangnya), KWK yang sudah semakin semrawut (tidak ada kedisiplinan berkendara).
  2. Batasi masa umur ekonomis Mobil Pribadi, maksimal 5 th. Sesudahnya mobil tersebut harus dijual oleh PEMPROV untuk dihancurkan. Dan PEMPROV bisa membuka pabrik baja atau besi baru untuk menyuplai kebutuhan baja dan besi pabrikpabrik di negeri ini. (mengenai harga, harap terapkan harga umur ekonomis sesuai akuntansi negara)
  3. Minimalisir PEREMPATAN di Jalan IBU KOTA. Setidaknya PEREMPATAN bisa dijumpai dalam batas 10 KM. Jangan baru 1 – 2 KM ada perempatan, sehingga terlalu banyak yang mengantri karena lampu merah. Jadi sebaiknya sistem 1 arah lebih banyak diterapkan. Dan para pengguna jalan harus rela berkorban beberapa kilometer untuk sampai kerumahnya, dan itu adalah harga mati untuk bertoleransi dengan pengguna jalan lainnya.
  4. Fungsikan Jembatan Penyebrangan, Buat pagar tinggi disetiap batas Jalan sehingga tidak ada penyebrang jalan yang nakal untuk melintas, lalu setiap jembatan dijaga ketat oleh aparat PEMPROV (banpol). Misalnya saja kemacetan yang terjadi di depan ITC Kuningan / Mal Ambasador. Seandainya saja ada underpass atau jembatan penyebrangan tentu setiap pagi, setiap makan siang dan setiap sore hari kemacetan bisa diminimalisir. Karena kemacetan di tempat tersebut disebabkan oleh lalulalang penyebrang jalan.
  5. Bangun transportasi massal secepatnya, MONORAIL, BUSWAY, SUBWAY, dan WATERWAY dengan segera. Jika perlu gunakan konsultan dari negera maju yang sudah mempunyai alat transportasi yang canggih, buat konsep joint operation, Sehingga ada bagi hasil untuk PEMPROV.
  6. Revisi Ramburambu lalu lintas yang kurang berguna (inilah yang dilakukan oleh Ahmadinejad sewaktu jadi gubernur Teheran). Sehingga lebih bermanfaat, Tempatkan juga para aparat (banpol) untuk menjaga ketat fungsi ramburambu tersebut,,
  7. Beri sosialisasi kepada masyarakat DKI JAKARTA supaya bisa tertib, disiplin dan toleransi kepada setiap perbaikan kemacetan ini. Ajak mereka untuk bisa mengatasi kemacetan bersamasama.

Karena Bimaa peduli terhadap Jakarta, maka Bimaa menyumbangkan pemikiran ini untuk mengatasi Kemacetan di Jakarta. Dan Pemikiran ini aku dedikasikan kepada “JAKARTA kota sejuta ASIA”.

 

AYO BENAHI JAKARTA UNTUK SEMUA

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s